Air Terjun Ngungun Saok, Surga Tersembunyi di Pelosok Kota Padang

0
98
Foto: Okezone

Travel Journalism, Padang – Media merupakan salah satu aspek penting dalam kemajuan pariwisata. Tak terkecuali pers mahasiswa. Sebagai media yang berfokus pada kampus dan daerah lokal,  kemajuan wisata daerah lokal juga menjadi salah satu tanggung jawab dari pers mahasiswa. Sebab pers mahasiswa harus mampu menjadi agent of control dan mampu mempromosikan wisata daerah lokal kepada khalayak.

Menyadari peran tersebut, saya dan tiga orang kru Unit Kegiatan Pers Mahasiswa (UKPM) Gentaa Andalas menelusuri objek wisata yang belum terlalu dijamah di Kota Padang. Karena belum terlalu banyak masyarakat yang tahu, penting rasanya bagi kami untuk menjamah lokasi tersebut dan kemudian mempromosikannya lewat media kami.

Air Terjun Ngungun Saok namanya. Terletak di Lubuak Minturun, Koto Panjang Ikua Koto, Koto Tangah, Kota Padang, Sumatera Barat, air terjun ini dikelola oleh kelompok sadar wisata, atau masyarakat setempat.  Bisa dikatakan, Ngungun Saok adalah “keindahan tersembunyi” Kota Padang yang asri.

Berasal dari bahasa Minang, Ngungun memiliki arti mandanguang (berdengung) sedangkan Saok berarti tertutup. Menurut cerita warga setempat asal mula nama ini berawal dari batu yang menutup aliran air, sehingga terjadilah dengungan. Kemudian tempat yang memiliki kejernihan air berwarna hijau ini diberi nama Ngungun Saok.

Terik matahari di pagi menjelang siang itu, Minggu (10/4) tak menyurutkan semangat saya dan tiga teman lainnya untuk bisa menjamah Ngungun Saok. Mengingat sudah pukul 10.00 WIB, kami memutuskan untuk menancap gas sepeda motor sekencang mungkin dari Kapalo Koto, Pasar Baru, Limau Manih, Padang.  Karena awalnya, kami berencana berangkat lebih pagi, sekitar pukul 08.00 WIB. Agar belum ramai pengunjung belum terlalu ramai dan air pun lebih bersih.

Dengan kecepatan 80km/jam, menggunakan jalan ‘mencit’ kami sampai di Simpang Tiga Lubuak Minturun dalam waktu 15 menit. Di simpang tiga, kami belok kanan. Setelah melalui setidaknya 10 menit jalanan beraspal, kisah pun dimulai.  Kami kemudian melewati jalanan berbatu. Di samping kiri kami terdapat tebing cukup tinggi yang jika hujan akan berpotensi longsor. Jika terjadi longsor, maka jalan akan ditutupi tanah dan akses jalan pun akan putus.

Sekitar 4 kilometer kemudian, kami sampai di posko pemuda. Di sana tertulis “Air Terjun Ngungun Saok. Lebih kurang 2 km”. Di sini kami harus merogoh kocek Rp5000 per kepala. Teman saya mengingatkan, jangan percaya dengan tulisan 2 km tersebut. “Haha pasti supaya pengunjung semangat kalau dibilang cuma 2km lagi,” saya menimpali.

Benar saja. Lebih dari 2 km untuk bisa menginjakkan kaki di Ngungun Saok. Kami pun harus mengeluarkan tenaga dan semangat yang ekstra. Pasalnya, akses jalan menuju tempat tersebut terbilang lebih jelek dibanding jalanan sebelumnya. Jalan hanya berupa batu-batu dan tanah yang licin dan berlobang. Juga kemiringan jalan yang kira-kira mencapai 30 derajat, cukup menguras tenaga para ‘driver’. Saya pun harus berkali-kali turun dari motor, karena ban selip ataupun agar beban motor lebih ringan sehingga lebih mudah melalui tanjakan jalan. Rasa cemas pun meningkat mengingat jika terjadi hujan maka kami akan terjebak. Atau jika terjadi sesuatu pada motor, itu akan menjadi masalah besar karena tidak ada bengkel dan sulit keluar.

Roda sepeda motor terus berputar begitu pun dengan jarum jam yang melingkar di tangan. Tanjakan demi tanjakan kami lalui. Jalanan berlobang kami lewati. Tiupan angin yang menerpa wajah membuat saya semakin bergairah untuk secepat mungkin sampai di tempat yang dinanti. Udara sejuk, jauh dari kebisingan kala itu membuat hati seketika damai.

Tak jauh dari lokasi, kami pun dihentikan oleh seorang warga. “Parkir di sana, Dek. Rp3000 per motor,” ujarnya sambil menunjuk sebuah halaman rumah di sebelah kiri kami. Kami pun membayar Rp6000 namun tidak parkir di tempat yang diarahkan, karena akan membuat kami berjalan beberapa meter lagi. Kami pun parkir tepat pada posko terakhir. Di sana tertulis “Ngungun Saok. Rp3000 per kepala”. Kami pun kembali merogoh kocek.

Rasa bahagia penuh haru saat tersadar “keindahan tersembunyi” kota Padang telah berada di depan mata. Akan tetapi, perjuangan kami untuk mencapai air terjun belum berakhir, kami harus menuruni bukit. Saya pun semakin semangat ketika mendengar pekikikan-pekikan dan suara gemercik air terjun yang seakan mengajak saya untuk bermain bersamanya. Kemiringan jalan yang hampir 80 derajat tak membuat saya ragu untuk terus melaju. Meski harus memegang akar pohon, ataupun tali yang sudah disediakan oleh pemuda untuk mempermudah pengunjung turun.

Sesampainya di Ngungun Saok, saya langsung berteriak. Takjub melihat genangan dan buliran air berwarna hijau yang dikelilingi oleh batu-batu raksasa yang menyerupai tebing. Airnya yang jernih membuat batu di dalam air tersebut terlihat jelas. Belum lagi air terjun yang jatuh mengikis-ngikis batu menyisakan gemercik. Setengah tak percaya, inilah ‘’keindahan tersembunyi’’ di dalam bukit yang menyimpan ‘surga’ dunia.

Tidak ingin menyia-nyiakan waktu, saya pun langsung mengganti pakaian di tempat yang sudah tersedia. Namun, untuk menuju ‘kolam’ yang diapit oleh dua batu besar, kami harus berjalan dan melompat dari batu ke batu yang cukup lebar. Jika langkah tak cukup besar, maka akan jatuh dan disambut oleh bebatuan. Maka perlu keberanian dan keyakinan untuk melakukannya. Tidak hanya itu, lagi-lagi adrenalin kami pun terpacu ketika  harus turun dari batu besar tersebut dengan menggunakan tali.

Barulah setelah melalui perjalan panjang, saya bisa menenggelamkan diri dalam kesejukan genangan air. Tapi tunggu dulu. Perjalanan tak berhenti di air terjun ini. Karena ternyata air terjun yang dimaksud tidak sama dengan Ngungun Saok. Untuk sampai di Ngungun Saok, kami harus berjalan di atas batu-batu besar yang licin. Terpeleset sedikit saja akan ‘disambut’ oleh batu lainnya.

Setelah berhasil berjalan di atas batu-batu besar yang licin, barulah sampai di Ngungun Saok yang sebenarnya. Sesuai namanya, tampak batu yang menutup aliran air sehingga menghasilkan bunyi yang mendengung. Airnya sekilas terlihat seperti ribuan jambrud kebiru-biruan yang meleleh karena sang bola api di atas sana. Udara yang sejuk membuatmu lupa cara berebut oksigen dengan manusia di luar sana. Batu-batu besar nan tinggi itu seperti sengaja memeluk cairan kebiruan tadi dan menjaganya. Ah, ini terlalu lebay. Tapi tidak begitu berlebihan sebagai pujian untuk lukisan Tuhan yang bisa kita datangi kapan saja tanpa merogoh ratusan rupiah. Setelah bermain bersama air, kami pun pulang dengan otak dan hati yang fresh. Terkadang kita harus pulang ke alam untuk menghilangkan sejuta kesuntukkan.[]

Penulis adalah Rafika Surya Bono, mahasiswi dari Universitas Andalas, Padang. Rafika merupakan salah satu peserta PJTLN “Jurnalisme Wisata” yang diadakan oleh Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) DETaK Unsyiah di Aceh.

LEAVE A REPLY